Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Januari 2012

Naskah yang Diinginkan Penerbit


Kesal dengan naskah yang tidak juga selesai karena diri sendiri terlalu perfeksionis, sehingga menerka-nerka apa sih yang membuat naskah dianggap layak terbit itu? Setelah saya telusuri akhirnya penjelasan dari Pak Anwar Holid berikut ini bisa dijadikan acuan, buat saya, buat teman-teman dan siapapun juga yang ingin berjaya dalam dunia tulis menulis.


Kalau diberi kesempatan, naskah seperti apa yang akan kamu terbitkan?
Jawabannya: aku mau menerbitkan semua buku yang aku inginkan.

Mimpi! Kenyataan tak semudah itu. Penerbit merupakan lembaga bisnis yang bertaruh dengan uang. Ia berhitung untung-rugi. Setiap penerbit punya selera dan ketentuan sendiri. Jujur, penerbit manapun lebih suka menerbitkan naskah yang sudah dijamin biaya produksinya, misal oleh penulis sendiri, pemodal, atau pihak lain yang berkepentingan daripada harus menerbitkan naskah yang pasarnya belum jelas, butuh energi, dan biaya besar untuk balik modal.

Kecenderungan ini terbukti dari banyaknya naskah pesanan, padahal editor sudah kerap memberi tahu bahwa naskahnya tidak layak dan teknik penulisannya payah. Tapi karena penerbit pasti mendapat untung tanpa perlu susah-susah menjualnya, naskah itu tetap harus terbit, bahkan kerap dirayakan dengan gegap gempita.

Buku yang terbit kadang-kadang tak ada hubungannya dengan naskah baik atau buruk. Sering penerbit hanya butuh naskah laku, yang langsung bisa meyakinkan bakal mendatangkan uang, menghasilkan bonus, terjual ratusan ribu kopi, dan memasarkannya dengan semangat. Mau naskah sebagus apa pun, semulia apa pun, kalau dinilai tak mendatangkan untung tak bakal diterbitkan. Kalau terpaksa diterbitkan, entah oleh penerbit profesional atau self-publishing, hasilnya sama saja: buku itu menumpuk bertahun-tahun, sebelum akhirnya akan dikilo ke tempat loak. Naskah bagus bisa berbeda dengan naskah laku, dan itu merupakan misteri bagi semua pemain industri perbukuan, meski penerbit terus berusaha menaklukannya.

Banyak buku yang dilecehkan sebagian pembaca ternyata laris di pasar, jadi bestseller, dicetak puluhan kali, mendatangkan untung miliaran rupiah bagi penerbit dan penulis. Penerbit kerap lebih tertarik dengan naskah yang punya potensi jadi bestseller daripada naskah yang dianggap baik. Untuk mendapat naskah bestseller penerbit bahkan berani menyewa penulis dan membayar kontan. Orang boleh saja menghina-hina sebuah buku rendah mutunya, kosong isinya, ditulis biasa saja, bahkan mungkin merupakan pseudosains utak-gatik-gatuk, tapi kalau buku itu laku, silakan gigit jari orang yang menghina-hina itu. Setiap buku laris pasti bakal ada susulannya; penerbit lain sangat ingin mendapat naskah sejenis itu. Penerbit selalu mencari momen bestseller, bagaimanapun caranya.

Kalau begitu, naskah seperti apa yang bisa terbit?
Jawabannya jelas naskah yang bakal laku bila jadi buku.
Jawaban ini bisa sangat beragam bentuknya, sebab penerbit punya pernyataan bisnis masing-masing bahkan bisa tak malu-malu mengkhianati pernyataan itu. Contoh: ada penerbit yang berafiliasi dengan Islam malah menerbitkan buku tentang seorang Yahudi yang dianggap menghancurkan dunia Islam. Kenapa penerbit ini mau menerbitkannya? Karena dia ingin memetik keuntungan dari buku itu.

Naskah yang bisa menarik perhatian penerbit biasanya punya ciri sebagai berikut:

1. Ditulis dengan rapi.

Ini syarat mutlak. Selera editor biasanya langsung rusak bila melihat naskah yang terlalu banyak salah eja. Bila seleranya rusak, dia akan lebih kesulitan lagi menemukan permata dalam naskah itu. Wah, bukankah memperbaiki dan memoles kesalahan naskah itu tugas editor? Benar. Tapi penulis harus menolong diri sendiri dulu. Penulis dilarang membebankan persoalan elementer ini pada editor. Di sinilah pentingnya penulis harus berusaha mengetik secara disiplin dan akurat, kalau bisa tanpa kesalahan satu pun.

2. Subjek (isi) tulisan itu jelas.

Penulis mestinya mengusung ide tertentu yang fokus. Ia mau bicara apa? Bagaimana cara dia menyampaikan pemikiran? Kalau bertele-tele, banyak menyertakan hal irelevan, malah membuat kabur persoalan, editor bisa langsung menolak naskah itu atau mencorat-coretnya. Kalau cara penyampaiannya kurang greget, sementara ide ceritanya biasa, naskah itu akan mudah diabaikan. Sebaliknya, meski ide ceritanya biasa, namun disampaikan secara unik, atraktif, dengan sudut pandang menarik, kemungkinan besar naskah itu masih tetap bisa memikat. Isi naskah merupakan perhatian utama editor, sebab pada dasarnya itulah yang akan ia kemas menjadi buku yang bisa dijual, bisa ditawarkan kepada calon pembaca.

Jonathan Karp, seorang editor berpengalaman di Amerika Serikat, menyatakan: “Kami akan mati-matian berusaha menerbitkan buku yang luar biasa, karya penulis yang memiliki perspektif unik, otoritasnya diakui, dan mampu menarik perhatian orang. Karya yang bisa menjelaskan mengenai budaya kita. Ia mesti bisa menerangi, menginspirasi, memancing emosi pembaca, sekaligus menghibur. Pendapat, otoritas, maupun subjek buku itu harus tunggal, istimewa, luar biasa.”

Noor H. Dee, editor di LPPH, berpendapat bahwa sebuah naskah pantas diterbitkan bila memiliki nilai kebaruan dan keunikan. Pembaca juga harus bisa mendapatkan manfaat dari naskah tersebut. “Saya lebih memilih naskah yang sedang hip (digemari) di pasaran, sebab trend pasar juga jadi pertimbangan saya,” demikian ujarnya.

3. Punya nilai lebih atau keunggulan yang bisa ditonjolkan.

Ini berguna bila subjek bahasan penulis serupa dengan penulis lain, atau topik itu sudah dibahas banyak buku lain. Apa yang ditawarkan naskah ini, misalnya apa rahasia yang belum terungkap penulis lain, temuan baru, efektivitas, bahkan hal-hal sepele yang mungkin bisa diunggulkan sebagai nilai jual.
Contoh kasus: Isi Outliers (Malcolm Gladwell) kalau dilihat-lihat sangat klise, berisi pandangan manusia tentang kesuksesan. Buku motivasional atau how-to sudah membicarakannya dari banyak sisi. Tapi kenapa Outliers tetap bisa menonjol secara luar biasa dan jadi bestseller gila-gilaan? Bisa jadi karena dua hal:
(1) teknik penulisannya hebat dan lincah sekali.
(2) cara berpikir Gladwell unik dan cara dia menarik kesimpulan mengejutkan.

Carol Meyer dalam The Writer’s Survival Manual menyebut ada tujuh faktor yang sering jadi pertimbangan editor dalam meloloskan naskah, yaitu:
a. Apa naskah ini cocok dengan buku-buku terbitan sebelumnya? Apa penerbit pernah sukses dengan buku seperti ini? Kalau tidak, apa ada celah baru yang masuk akal untuk menerbitkan naskah ini? Bagaimana menjualnya?
b. Apa subjek buku itu akan bisa dia edit dengan nyaman? Kalau harus outsource, apa biayanya terjangkau?
c. Apa editor punya waktu untuk mengeditnya?
d. Apa naskah itu ditulis dengan baik?
e. Bagaimana kompetisi naskah sejenis di pasar?
f. Apa subjek naskah itu sedang populer, membuka subjek baru, atau punya kemungkinan melahirkan trend baru?
g, Apa penerbit sanggup membiayai ongkos produksinya?

****

Tak ada yang suci di dunia penerbitan. Sebuah naskah bisa terbit karena belasan alasan dan kondisinya macam-macam. Apalagi naskah apa pun bisa dipoles dan direvisi. Bahkan kerap terjadi naskah yang sebenarnya belum layak pun bisa dipaksa terbit bila ada pihak yang menginginkan atau mau membiayainya. Ingatlah buku-buku buruk yang pernah kita baca. Standarnya ialah asal naskah itu memenuhi syarat tertentu, masuk kategori cukup (tidak memalukan bila diterbitkan) , bisa diupayakan, ada sesuatu yang ingin dikejar, maka naskah itu niscaya bakal terbit.

Sederhananya, bila editor menilai bahwa naskah yang dibacanya sudah cukup bagus, cukup yakin bahwa naskah itu punya nilai jual, ia akan meloloskan dan mengusulkan untuk diterbitkan. Kalau naskah disiapkan dengan baik, itu sudah cukup untuk menjadi bahan buku yang memadai. Perkara bestseller, siapa yang tahu. Banyak buku bestseller kualitas isinya biasa saja. Ada buku yang isinya bermutu tapi tak laku. Secara umum, Dari dulu buku bestseller itu tipikalnya sama: penulisannya populer, isinya mudah dipahami, cukup “ringan” waktu dibaca, menggugah (inspirasional) , memberi wawasan yang segar, simpel, berorientasi pasar, bisa memenuhi selera umum seluas mungkin.

Kalau Anda mau menulis buku yang berpeluang jadi bestseller, menulislah secara populer dan informal. Pelajarilah cara menulis yang efektif-efisien. Belajarlah dari buku laris, bergurulah pada penulis, instruktur menulis, atau penerbit yang tergila-gila pada buku bestseller.
Salah satu faktor bestseller ialah karena buku itu ditulis oleh seorang ahli di bidang tertentu dan dia mampu menggunakan keahlian atau wawasannya sebagai basis untuk meyakinkan pembaca, bukan untuk pamer pengetahuan atau justru menonjol-nonjolkan betapa tinggi ilmunya. Alasan ini mungkin masih kabur. Konkretnya: carilah naskah karya seorang ahli di bidang tertentu, ditulis secara populer, banyak memiliki insight, dan segar, mungkin ia bakal mudah jadi buku bestseller.

Fakta ada banyak naskah yang awalnya ditolak puluhan editor, gagal diterbitkan penerbit tertentu, namun begitu diterima dan diterbitkan pihak lain ternyata mendapat pengakuan hebat di mana-mana, dikritik habis-habisan, atau akhirnya jadi bestseller mestinya membuka mata dan menyemangati penulis bahwa naskah yang baik itu pasti layak diterbitkan dan punya nilai jual. Karena itu teruslah menulis dan berkarya.
~ keep your hand moving ~

*Anwar Holid bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis.

Jumat, 16 Desember 2011

Tips Menulis Online

Bila Anda adalah seorang penulis online, pasti Anda tahu bahwa menulis secara online tentulah memiliki suatu ruang tersendiri. Mungkin Anda mencoba menulis tentang bisnis dengan harapan mendapatkan pendapatan tambahan atau Anda ingin menjadi penulis lepas, tapi terkadang tantangan menghampiri mimpi menulis Anda. Dengan sedikit rencana, motivasi yang tinggi dan kerja keras, Anda akan dapat meraih tujuan dengan mendatangkan banyak pendapatan dari menulis. Berikut ini beberapa tips menulis yang dapat membantu Anda memaksimalkan waktu menulis Anda secara online.



Ciptakan ‘batasan’ dengan Teman dan Keluarga Anda

Sangat disayangkan, banyak orang yang bekerja ‘nine to five’  tidak memahami  bahwa menulis justru memerlukan waktu yang lebih lama, dedikasi dan tentu saja usaha yang bisa jadi lebih berat. Penulis di rumah sering menghadapi beragam gangguan dan pengalihan konsentrasi setiap harinya dikarenakan banyak teman dan keluarga sendiri yang tidak begitu memperhatikan bahwa  menulis merupakan pekerjaan serius yang membutuhkan waktu khusus, momentum dan suasana untuk bisa fokus kepada apa yang akan ditulis. Dan bahkan banyak teman dan keluarga kita sendiri yang kurang menyadari bahwa proses mencari inspirasi dan proses kreatif juga merupakan suatu bisnis yang penting. Terkadang cukup baik juga untuk menentukan batasan tertentu dengan orang-orang tercinta yang ‘mengganggu’ dan ‘kurang menghargai’ waktu menulis kita, karena kebanyakan orang berpikiran bahwa menulis (di rumah) bukanlah hal yang terlalu penting atau hal itu hanya sekedar hobi belaka.
Perlakukan menulis online layaknya bisnis freelance, dan tentukan ruang kerja pribadi dimana Anda tidak mudah diganggu selama proses menulis (hal ini bisa apa saja, seperti menetapkan ‘sudut tenang’ di rumah, atau ruangan menulis khusus yang memiliki pintu tertutup sehingga bisa ditempeli tulisan “harap tenang/jangan diganggu, saya sedang menulis”). Tentukan berapa jam Anda akan menulis di setiap minggunya dan ciptakan waktu pada hari kerja dimana Anda tidak ingin diganggu dengan banyak pengalihan fokus Anda menulis, hal tersebut dapat membantu Anda untuk meningkatkan produktivitas menulis. Tegaskan kepada teman, tetangga atau keluarga Anda dan nyatakan bahwa Anda akan melakukan bisnis menulis secara serius dan berharap mereka dapat menghargai waktu Anda untuk menulis.

Batasi waktu lingkungan sosial Anda

Penggunaan waktu untuk berinteraksi sosial secara tidak bertanggung jawab seperti di twitter dan facebook dapat berpengaruh besar terhadap waktu harian menulis Anda. Apabila Anda mengulas kembali waktu yang telah Anda habiskanuntuk online selama seminggu, berapa lama-kah Anda melakukan aktivitas sosial secara online dibandingkan waktu menulis Anda dan mempublikasikannya secara online? Tentu saja mempromosikan artikel melalui Twitter dan Facebook sangatlah efektif, tetapi usaha ini haruslah benar-benar sesuai dengan kegiatan menulis yang sesungguhnya, yaitu menciptakan ‘karya tulis’ Anda. Dan jika Anda memang ketagihan berinteraksi sosial secara online, Anda harus mau untuk mengontrol diri Anda sendiri untuk tidak lantas terlarut didalamnya dengan mendisiplinkan diri memangkas waktu berinteraksi.
Hormatilah tujuan Anda sendiri dalam menulis dengan mengenyampingkan terlebih dahulu waktu-waktu  untuk mengecek situs facebook, awali dahulu dengan membalas email-email yang penting, lalu langsung kerjakan proyek menulis Anda. Perlakukanlah situ seperti facebook dan twitter sebagai hiburan dan waktu istirahat saja setelah Anda mengutamakan waktu Anda untuk menulis.

Rapikan ‘Kekacauan’

Bila tempat menulis Anda berantakan dan Anda merasa tidak nyaman tiap kali memasuki ‘ruang kerja’ Anda sendiri, bagaimana Anda bisa terinspirasi untuk menulis? Banyak penulis yang jatuh pada perangkap pemikiran bahwa semakin kacaunya meja Anda adalah tanda bahwa tingkat kejeniusan kreativitas Anda tinggi, namun kebanyakan semua kekacauan itu lebih sering membuat Anda merasa tidak nyaman, gugup, tidak fokus dan justru membuat ‘mood’ jadi hambar.
Dengan membersihkan tempat Anda berkarya, sebagai seorang penulis tentu akan meningkatkan produktivitas Anda dan menaikkan pendapatan Anda. Setidaknya ada pemikiran bahwa Anda menyayangi tempat kerja Anda sendiri untuk menulis dan menghasilkan uang. Tempat kerja yang menenagkan, rapi dan tampak ‘mengudang’ akan membuat pikiran Anda jernih dan tenang yang memacu Anda untuk memulai menulis. Bila kekacauan tempat kerja Anda sudah terlampau banyak sehingga sulit mengaturnya sendirian, setidaknya mulailah rapikan dahulu salah sudut tempat Anda bekerja, bersihkan lalu teruskan, semakin Anda peduli terhadap keteraturan Anda akan merasa segar. Bisa juga minta bantuan teman dan keluarga untuk membereskan barang-barang Anda yang berceceran, kumpulkan buat acara lelang untuk amal atau mungkin bisa di daur ulang.  Ingat, tempat menulis Anda adalah tempat yang sangat sakral.

Buatlah Rencana Menulis

Bila Anda tidak memiliki alasan kuat mengapa Anda ingin menjaid penulis, dan bagaimana cara meraih impian Anda, lalu bagaimana Anda akan melanjutkan kegiatan menulis Anda? Dalam rangka mewujudkan cita-cita menulis Anda, Anda harus memiliki tujuan keuangan dan stok kreativitas  kemudian buatlah tahapan yang realistis untuk menggapainya. Dan di akhir tahun, luangkan waktu untuk mengulas kembali semua tulisan Anda yang telah terpublikasi dan bandingkan dengan penghasilan yang Anda dapatkan, lalu tAndai tulisan manakah yang paling menguntungkan.
Tentukan tujuan yang spesifik dan terukur yang dipecah lagi menjadi tujuan-tujuan yang kecil, lebih mudah diraih yang terbagi dengan langkah-langkah tindakan yang akan Anda lakukan untuk mencapainya.  Lihat kembali sumber penghasilan utama Anda setiap tahun, mungkin Anda ingin melakukan beberapa peluang ceruk kepenulisan, fokuskan pada artikel apa yang ingin Anda buat untuk menghasilkan jutaan rupiah. Sasaran tujuan lainnya bisa saja: meragamkan penghasilkan Anda dari mencoba situs menulis yang lain, menentukan jumlah artikel yang ingin dipublikasikan tiap minggunya atau tiap bulannya, atau membuat target pendapatan yang dapat Anda tentukan besarannya tiap bulan (missal, Anda ingin berpenghasilan 10 juta rupiah bulan depan, maka Anda harus menulis berapa banyak untuk mendapatkan uang sebanyak itu?).

Jadwal Istirahat Secara Berkala

Mungkin terdengar bertolakbelakang, tetapi menjadwalkan waktu istirahat selama hari-hari menulis Anda sesunggunya dapat membantu Anda menyelesaikan tulisan bila dibandingkan bila Anda meletihkan diri hanya untuk menulis secara non stop. Anda mungkin berpikiran bahwa memaksa diri Anda untuk menulis dengan jam yang panjang hingga Anda menyelesaikan target tulisan harian Anda adalah sesuatu yang aktif, namun mengambil sedikit waktu untuk beristirahat sejenak sesungguhnya benar-benar dapat membantu Anda kembali memfokuskan pikiran dan memberikan Anda inspirasi baru yang lebih segar. Bila Anda merasa letih dan buntu, maka berbuat bailah pada diri Anda sendiri lalu bangkitlah sejenak dari kursi Anda, meminum sedikit kopi atau the dan merenggangkan tubuh Anda selama beberapa menit, kesemuanya itu dilakukan untuk meningkatkan produktivitas.
Dengan sedikit keberuntungan dan banyak usaha keras, Anda akan meraih tulisan impian Anda. Jangan biarkan diri Anda terbawa arus yang dapat melumpuhkan kesuksesan Anda menjaid seorang penulis freelance. Dengan menerapkan tips produktif menulis ini dan bekerja secara cerdas Anda berada pada jalan untuk membangun pertumbuhan bisnis menulis online.

Selamat menulis!

Jumat, 02 Desember 2011

Kapan Saat Terbaik untuk Menulis?

Saya Desperado, tidak juga selesai membuat proyek tulisan saya, kadang semangat tinggi tapi situasi dan kondisi tidak memungkinkan, kadang ide datang tapi badan tidak juga beranjak untuk 'start' dikarenakan letih atau di tengah suasana yang terlalu sedih atau bahkan terlalu senang, karena apa? Kualitas ditentukan oleh suasana hati dan pikiran, tapi tentunya niat dan kondisi fit juga memegang peranan penting. Mungkin dikarenakan hambatan-hambatan yang sebenarnya bisa saya eliminir terus berulang, saya merasa perlu untuk meruntutnya kembali supaya kalau lagi moody saya akan ingat hal-hal dibawah ini… yah minimal untuk menyemengati diri sendiri.
Karena Penulis memiliki suasana hati. Ada kalanya kita merasa seperti sangat ingin menulis dan ada kalanya kita tidak. Namun, menjadi penulis, adalah penting untuk menulis setiap hari. Tapi kapan waktu terbaik untuk menulis? Berikut adalah beberapa pertimbangan ketika datang untuk memilih waktu terbaik untuk menulis.
1) Menulis di saat-saat yang kita rasa paling produktif
Bagi saya, waktu terbaik untuk menulis harus lah saat-saat produktif saya untuk bekerja/di waktu paling produktif. Mungkin anda bisa berbeda pendapat. Untuk beberapa dari Anda, bisa pagi atau larut malam. Itu tergantung. Saya merasa paling produktif di pagi hari. Ada saat ketika saya duduk untuk menulis pagi-pagi, bahkan sebelum matahari terbit dan dapat menyelesaikan sebuah artikel di bawah satu jam. Saya selalu memiliki keinginan yang kuat untuk dapat menulis selepas bekerja di malam hari sebelum tidur, namun menurut pengalaman energi dan pikiran saya tidak maksimal, tulisan menjadi datar meskipun bisa juga menghasilkan banyak, tapi bagi saya kurang enak dibaca. Cari saat paling produktif Anda, percobaan dengan waktu yang berbeda hari dapat dilakukan untuk menemukan waktu terbaik untuk menulis.

2) Sedang Ingin/Sedang Semangat
Ada saat-saat ketika saya tiba-tiba merasa seperti harus menulis 'sekarang!'. Pernah juga kan? Apa yang Anda lakukan? Apakah Anda mengabaikan dorongan-dorongan tersebut karena Anda sibuk? Atau apakah Anda meluangkan waktu untuk mengikuti keinginan Anda? Hal ini penting untuk mengakui dorongan ini, Anda akan menemukan bahwa Anda akan memiliki semangat lebih untuk menulis pada saat seperti ini. Ketika dorongan untuk menulis datang, jangan abaikan mereka. Ini adalah waktu terbaik untuk menulis sebab datangnya tiba-tiba dan bisa jadi di luar waktu produktif Anda. Jadi, kapan lagi??

3) Santai
Waktu terbaik untuk menulis adalah ketika Anda berada pada situasi paling santai. Itulah mengapa ada orang yang mengunjungi tempat-tempat menenangkan seperti taman, pantai atau danau, hanya untuk menulis. Apakah Anda pernah merasa seperti itu? Tetapi bahkan ketika Anda tidak sedang di tempat seperti ini, Anda masih bisa menulis di kenyamanan rumah Anda. Ketika suasana rumah sedang tenang, atau Anda berupaya menciptakan ketenangan sendiri dengan memasang aquarium didepan meja tulis Anda, memasang poster pemandangan/foto, atau mungkin dengan menghadapkan meja belajar anda ke arah jendela sambil melihat tanaman di depannya dan menghirup kesegaran tanah yang baru saja disirami air hujan, saat-saat seperti itu mungkin dapat membuat Anda merasa lebih santai. Ini akan menjadi waktu terbaik untuk menulis ketika Anda sedang santai karena pada saat itulah gagasan mengalir secara bebas kepada Anda.

4) Tidak ada selingan/gangguan
Hilangkan segala bentuk gangguan. Jika Anda menemukan musik atau TV yang mengganggu, matikan sajaa. Jika Anda merasa bahwa internet adalah gangguan terbesar Anda, nonaktifkan koneksi internet sehingga Anda dapat berkonsentrasi hanya pada satu hal - menulis Anda. Cari tahu apa yang mengalihkan Anda dan cara apa yang paling baik diadopsi untuk menghilangkan itu, sebelum Anda mulai menulis. Kalau saya pribadi sih, gangguan menulis adalah diri saya sendiri, terlalu banyak ide bermunculan bersamaan bahkan untuk proyek-proyek menulis selanjutnya, sehingga tidak fokus. Ide-ide tumpah dan saling berebut minta ditulis. Dan saya masih belum menemukan formula yang pas untuk mengatasi hal ini, maka saya memerlukan dukungan berkala untuk membantu saya tetap pada jalur yang ‘sedang berjalan’ dan menuliskan muntahan ide-ide lainnya pada kertas, handphone, atau pada file komputer yang lain.

5) Menulis karena deadline.
Untuk penulis lepas/freelancer, Anda mungkin menemukan bahwa Anda merasa paling produktif ketika tenggat waktu untuk menulis Anda menjulang ke depan dan Anda tidak dapat mengabaikannya lagi. Saya ingat ketika saya masih kuliah harus menulis esai dan tugas. Bila Anda dipaksa untuk duduk dan melengkapi tugas-tugas tersebut maka disitulah kreativitas terbaik Anda. Beberapa tugas saya banyak yang ditulis hanya beberapa hari sebelum tenggat waktu pengumpulan, 3 hari, sehari, bahkan hanya semalam saja. Ternyata saya bisa mengerjakannya. Meski setelah itu saya menyesal, karena saya seharusnya bisa lebih sempurna dalam penggarapannya kalau tidak ‘tergopoh-gopoh’. Ada beberapa orang yang dapat bekerja dengan baik di bawah tekanan. Bagaimana dengan Anda? Jika Anda dapat melakukan hal itu, maka saran saya adalah tetapkanlah tenggat waktu pendek untuk diri sendiri.
Memilih waktu yang paling produktif adalah agak rumit. Anda perlu bereksperimen dengan waktu yang berbeda hari, suasana hati yang berbeda, dan kesempatan yang berbeda, dalam rangka untuk menemukan waktu terbaik untuk menulis karya Anda. Tidak ada jawaban benar atau salah untuk pertanyaan ini, bagi penulis masing-masing memiliki "waktu terbaik"-nya sendiri untuk menulis.

Sekian, selamat menulis.

Selasa, 29 November 2011

Tips Pemasaran Gerilya Untuk Bisnis Kecil


Pemasaran gerilya adalah istilah yang konon diciptakan oleh Jay Conrad Levinson dalam bukunya, "Guerrilla Marketing" yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1983. Melakukan strategi pemasaran gerilya konvensional, nventif, merupakan taktik untuk mempromosikan dan memasarkan produk serta jasa dengan biaya minimal dan imbalan yang maksimum. Agar usaha kecil mampu berjuang untuk bertahan hidup di masa-masa ekonomi yang sulit, dan dengan beban tambahan anggaran pemasaran yang ketat, pemasaran gerilya dapat menjadi cara yang murah untuk membuat orang ‘berbicara’ tentang perusahaan Anda, ‘menarik’ orang ke toko Anda, atau setidaknya menuliskan nomor  telepon dan alamat website Anda . Dibawah ini ditawarkan  beberapa cara untuk mendapatkan perhatian. Biarkan pikiran Anda mengembara  secara kreatif dan menggunakan daftar ini untuk merangsang ide-ide tambahan sebagai alat pemasaran.

  1. Melalui T-Shirt
Ini adalah salah satu alat gerilya tertua dan paling sukses pemasaran. Jika Anda membeli setengah lusin T-shirt atau lebih dicetak dengan nama perusahaan Anda, Anda memiliki peluang bagus untuk membawa bisnis Anda. Meski dalam huruf kecil, tapi terlihat, Anda dapat menyertakan nomor telepon, alamat jalan dan alamat website. Kenakan satu kemeja diri sendiri dan berikan pada yang lain untuk orang-orang yang di sekitar lingkungan Anda sebagai cara membuat iklan berjalan untuk perusahaan Anda.

  1. Tag Mobil Anda atau Motor
Apa yang Anda lakukan untuk T-shirt Anda dapat berlaku juga pada mobil, motor, bahkan sepeda anda. Cat atau stensil logo perusahaan Anda dan informasi lainnya pada kendaraan Anda sama hal nya dengan memiliki sebuah billboard bepergian.

  1. Selebaran di Tempat Strategis
Cari printer murah, cari lokasi-lokasi terjangkau yang strategis untuk menitipkan selebaran-selebaran anda. Di Toko Buku, Bengkel, Perpustakaan setempat, Salon, Restoran, dsb. Pastikan untuk mendapatkan izin sebelum meninggalkan selebaran.

  1. Flyer Swap
Buatlah kesepakatan dengan pedagang lain di lingkungan Anda atau kota untuk menyediakan tempat untuk brosur mereka jika mereka melakukan hal yang sama untuk Anda. Anda mungkin bisa mendapatkan eksposur untuk bisnis Anda di lain lokasi bisnis. Sebuah bersih kering mungkin memiliki brosur untuk restoran dan sebaliknya. Sebuah toko pakaian mungkin tempat yang baik untuk brosur agen perjalanan dan sebaliknya.

  1. Proyek Slide Anda
Memiliki slide yang dibuat yang mencakup logo Anda, nama perusahaan, nomor telepon dan alamat. Menambahkan salinan singkat tentang apa produk atau jasa yang Anda tawarkan melalui internet. Lalu lakukan hal yang sama di lokasi lainnya. Ubah lokasi sering, tetapi mencari situs di mana kebanyakan orang dapat melihatnya.

  1. Bergabung dengan Grup yang sesuai
Gabung dengan kelompok lain yang tepat untuk memulai jaringan produktif  dan menarik pelanggan potensial, vendor dan konsultan. Anda akan menemukan beragam orang dan Anda akan dapat saling membantu, tidak hanya sebagai pelanggan bersama, tetapi sebagai penasihat juga.

  1. Masukan Sticky Notes
Tuliskan pesan penjualan Anda di Post-It catatan dan paste di mana-mana orang akan melihat mereka. Kamar mandi tidak terlarang - ingat, ini adalah pemasaran gerilya. Mintalah seorang anggota dari lawan jenis untuk memposting catatan dalam kamar mandi ditargetkan pada bioskop dan restoran. Anda juga dapat meletakkan catatan Post-It di kamar pas atau di toko-toko pakaian. Berani??

  1. Undang Orang untuk ‘Datang’ dan ‘Complain’ atau Memberi Saran’
Tempatkan beberapa poster di lingkungan Anda mengumumkan "Datang, Complain atau Sarankan." pada pendirian bisnis Anda. Idenya adalah untuk menarik lalu lintas suara, mendengarkan apa yang pelanggan Anda sukai dan inginkan, dan untuk menarik pelanggan potensial. Anda juga mungkin menawarkan beberapa hadiah, gratis murah sebagai insentif. Keluhan dan saran dapat ditulis atau diucapkan. Ketika Anda mendapatkan keluhan, pastikan Anda berjanji untuk menyelesaikan kegundahan mereka. Ketika Anda mendapatkan saran yang baik, berjanji lah untuk menggunakannya.

Intinya:
Pemasaran gerilya adalah pemasaran yang efektif dan murah. Daftar ide di atas mencakup beberapa taktik sukses yang sering digunakan berdasarkan penelitian di Internet. Ada puluhan ide lain yang dapat digunakan dengantingkat keberhasilan yang sama. Jika Anda sedang mempertimbangkan kampanye pemasaran gerilya, berani, inventif, maka  jangan terkejut jika usaha Anda sudah berhasil.

Jumat, 25 November 2011

Langkah Membuat Penerbitan


Salah satu pertanyaan yang sering dilayangkan adalah bagaimana membuat self-publishing atau independent publishing. Self-publihsing adalah kegiatan penerbitan karya-karya sendiri. Sementara, independent publishing umumnya adalah sebuah penerbitan mandiri yang dikelola secara independen, yang menerbitkan karya-karya sendiri maupun karya orang lain. Tak jarang, sebuah penerbitan umum yang berkembang semula diawali dari self/independent publishing.

Salah satu tren perbukuan ke depan adalah maraknya pendirian penerbitan mandiri ini. Mengapa? Ya, karena sekarang membuat penerbitan sendiri sudah sedemikian mudahnya. Selain itu, banyak manfaat yang bisa diambil, selain juga potensi bisnisnya yang lumayan. Minat para penulis untuk membuat penerbitan mandiri ternyata cukup lumayan. Nah, bagi Anda yang ingin mencoba membuat self-publishing atau independent publishing, saya coba memadatkan segala tetek-bengek pembuatan penerbitan mandiri ini ke dalam delapan langkah berikut.

Pertama, siapkan naskah yang siap terbit dan memenuhi kriteria. Naskah siap terbit artinya naskah yang sudah tersunting secara rapi dan lengkap. Naskah yang sudah rapi dan lengkap akan memudahkan proses penerbitan buku. Sementara, naskah yang tidak lengkap dan rapi bisa sangat merepotkan.
 Untuk Anda yang ingin benar-benar mendapatkan manfaat finansial dari ‘petualangan penerbitan’ ini dianjurkan supaya benar-benar memilih naskah buku yang berpotensi untuk laku keras. Atau, akan jauh lebih baik lagi bila naskah itu berpotensi menjadi buku best-seller. Kecuali Anda memiliki misi khusus dengan penerbitan naskah tertentu, maka soal laku atau tidak laku memang tidak terlalu memusingkan.

Kedua, siapkan modal yang cukup untuk mencetak dan mempromosikan buku. Perkirakan, jika kita bisa efesien sekali dalam proses penerbitan ini, maka dengan modal sekitar Rp15-30 juta kita sudah bisa menerbitkan buku fast book atau buku ukuran 14 x 21 cm dengan rata-rata ketebalan antara 150-200 halaman dan oplah mencapai 3.000 eksemplar. Di sejumlah kota seperti di Yogyakarta, Bandung, Malang, dan Surabaya, kadang dengan modal di bawah Rp10 juta pun bisa jalan dengan jumlah cetak yang lebih sedikit. Nah, kadang sebagian orang tidak bermasalah dengan modal. Tetapi ada juga yang kesulitan. Bahkan, tak sedikit penulis yang memanfaatkan royalti bukunya untuk memodali dan mengawali penerbitan mandiri mereka. Sebagian lain ada yang patungan dengan rekan-rekannya. Prinsipnya, asal ada naskah yang bagus potensi pasarnya, maka modal pasti tidak sulit didapat.

Ketiga, merumuskan nama penerbitan yang menjual. Hal ini merupakan satu tahap yang penting dan sangat menarik. Bagaimana tidak? Membuat nama penerbitan layaknya menciptakan sebuah merek produk. Kita menciptakan identitas yang nantinya akan berkembang menjadi sebuah institusi. Sementara mereknya sendiri bisa saja berkembang dan memiliki ekuitas yang tinggi. Bolehlah kita berandai-andai suatu saat penerbitan yang kita lahirkan ini akan besar dan mapan sebagaimana penerbitan-penerbitan lainnya.
Maka dari itu, sekalipun kita bebas memilih nama penerbitan, dianjurkan supaya Anda memilih atau menciptakan nama penerbitan yang memiliki makna tertentu, sekaligus punya nilai jual. Contoh: ketika lahir  Bornrich Publishing, maka yang dibayangan adalah sebuah penerbitan buku yang sifatnya menggerakkan motivasi dan etos ekonomi, dan kemudian berujung pada cita-cita kesejahteraan masyarakat. Ketika,  lahirk pula Fivestar Publishing, maka yang dibayangan adalah sebuah penerbitan yang bertujuan untuk menggerakkan masyarakat supaya bangkit dan mengejar prestasi terbaik.
Khusus untuk lembaga konsultansi atau yayasan, maka inisial atau singkatan dari institusi tersebut juga bagus untuk dipakai sebagai nama penerbitan. Selain membantu branding lembaga tersebut, koneksitas antara penerbitan dengan lembaga tadi juga terasa lebihs erasi. Semisal, Jagadnita adalah sebuah lembaga konsultasi psikologi yang kemudian mendirikan Jagadnita Publishing. Atau Quantum Asia Corpora, sebuah lembaga konsultansi yang kemudian mendirikan QAC Publishing.

Keempat, menyiapkan desain kaver dan tata letak (lay out). Untuk kedua pekerjaan ini, kita bisa melakukannya sendiri bila mampu, atau dengan menggunakan tenaga desain profesional. Kita bisa memanfaatkan tenaga-tenaga desainer freelance atau mereka yang biasanya bekerja di perusahaan penerbitan. Selain itu, kita juga bisa mendapatkan desainer kaver atau penata letak dengan cara mem-posting pengumuman ke milis-milis perbukuan.
Untuk tata letak buku, biayanya bervariasi tergantung pada ketebalan buku serta ornamen-ornamen di dalamnya. Jika naskah buku kita banyak menggunakan grafik, foto, atau detail ornamen yang rumit, maka biaya tata letaknya bisa agak mahal (standar Rp1.500.000-3.000.000). Sementara, tata letak buku yang hanya berisi teks tidak memerlukan biaya mahal karena relatif lebih mudah dikerjakan (standar Rp750.000-1.500.000).
Soal biaya desain kaver bervariasi, tergantung pada siapa yang mengerjakan dan jenis desain yang dikehendaki. Di Yogyakarta, kita bisa mendapatkan desainer kaver standar dengan fee berkisar antara Rp400.000-800.000. Adapun di Jakarta, fee untuk desain kaver standar berkisar antara Rp600.000-1.200.000. Untuk desain-desain tertentu, biayanya bisa lebih mahal, misalnya seorang desainer kaver buku yang cukup punya nama menetapkan fee sebesar Rp10 juta.

Kelima, urus ISBN dan membuat barcode. Setiap judul buku perlu ‘identitas’ yang berlaku secara internasional dengan cara mendapatkan nomor ISBN. Jika sudah mendapat nomor ISBN, maka pekerjaan berikutnya adalah membuat barcode buku. Perpustakaan Nasional, tempat kita mendaftarkan ISBN buku kita, juga melayani pembuatan barcode. Tapi, kita bisa buat sendiri barcode dengan menggunakan program Corel Draw, asal sudah mendapatkan nomor ISBN.
Cara mendapatkan ISBN mudah sekali. Kita cukup menyiapkan satu surat permohonan ISBN (ditujukan kepada Kepala Perpustakaan Nasional u.p. bagian ISBN) dengan dilengkapi fotokopi halaman judul buku, halaman hak cipta, daftar isi, dan pendahuluan. Berkas bisa dikirim via pos, faksimili, atau diantar langsung ke Gedung Perpustakaan Nasional RI (lantai 2) di Jalan Salemba Raya 28-A, Jakarta (Telp: 021-3101411 psw 437). Bila kita baru pertama kali menerbitkan buku, maka kita akan diminta mengisi formulir keanggotaan ISBN. Kita akan mendapatkan kartu keanggotaan ISBN dan penerbitan kita tercatat di Perpustakaan Nasional. Pengalaman saya, mengurus ISBN berlangsung cepat, tak kurang dari 15 menit dan hanya membutuhkan biaya administrasi Rp25.000 (tanpa film barcode) untuk setiap judul buku.

Keenam, memilih percetakan yang tepat. Ada banyak jenis percetakan, tetapi pastikan untuk hanya memilih percetakan yang sudah berpengalaman dalam mencetak buku. Jangan pilih sembarang percetakan, terlebih percetakan yang hanya sekali-sekali mencetak buku. Jangan pula tergoda dengan percetakan yang asal murah. Terpenting adalah kualitas cetak dengan harga yang wajar. Ingat, produk buku punya bobot lain dibanding materi-materi cetak lainnya. Kalau kualitas cetaknya buruk, lupakanlah soal kredibilitas, kepercayaan, dan soal brand penerbitan maupun penulisnya.
Jika kita seorang pemula dalam penerbitan buku, usahakan mendapat pelayanan dari staf marketing percetakan tersebut. Pengalaman saya dan klien-klien saya, hampir setiap percetakan yang baik pasti menyediakan staf marketing yang siap melayani kliennya. Berurusan dengan percetakan seperti ini, kita bisa tinggal menyerahkan materi cetak, sementara mereka yang akan mengurus detailnya. Dan untuk amannya, pastikan pula kita bisa bersinergi dengan bagian percetakan dan desainer kaver maupun penata letak isi buku.

Ketujuh, menentukan harga jual buku. Setelah mengetahui biaya cetak dan komponen-komponen biaya lainnya (desain kaver, tata letak, editing, promosi), maka kita sudah bisa memperkirakan harga jual buku nantinya. Bagaiamana rumusannya? Mudah: seluruh biaya produksi dibagi dengan jumlah oplah buku, lalu dikalikan lima, hasilnya adalah harga jual buku kita. Contoh, biaya produksi Rp24.000.000 dibagi jumlah cetak 3.000 eksemplar (ketemu harga produksi @ Rp8.000) dikalikan lima = Rp40.000. Jadi, harga jual buku kita di toko nantinya Rp40.000.
Formula harga di atas adalah yang paling umum digunakan dan membuat harga buku tetap terjangkau. Yang saya amati, ada pula yang menggunakan bilangan pengali antara 6-7 kali untuk menetapkan harga jual. Akibatnya, harga buku menjadi jauh lebih mahal. Di satu sisi ini menguntungkan penerbit, di sisi lain ini berisiko juga, karena harga yang terlalu tinggi juga mempengaruhi minat beli komsumen. Oleh karena itu, pada kesempatan pertama menerbitkan buku, jangan pernah tergoda untuk melambungkan harga buku. Bila ingin mengunakan angka pengali lebih dari lima, pertimbangkan betul-betul daya serap pasar nantinya. Bila perlu, mintalah masukan dari konsultan penerbitan, distributor, atau toko buku kerena merekalah yang paham soal itu.

Kedelapan, mengadakan perjanjian distribusi dengan distributor. Pada saat naskah buku naik cetak, kita sudah harus mendapatkan distributor buku. Sebab, bila kita sudah mendapatkan distributor buku saat proses pencetakan berlangsung, maka selesai cetak buku itu bisa langsung dikirim ke gudang distributor. Distributor buku adalah salah satu pilar utama bisnis penerbitan, selain toko buku dan penerbit itu sendiri. Sebagai penerbit, bisa saja kita berkeliling dari toko ke toko untuk menawarkan buku kita (konsinyasi atau beli putus). Tapi, untuk menghemat tenaga, menjangkau toko-toko secara nasional, dan mempermudah persoalan administrasi, lebih baik kita menggunakan jasa distributor.
Banyak distributor buku dengan kekuatan maupun kekurangannya masing-masing. Hampir semuanya menggunakan sistem konsinyasi (beli kredit atau pembayaran sesuai dengan jumlah buku yang laku). Ada yang lingkupnya nasional serta menjangkau hampir seluruh toko buku, ada pula yang lingkupnya lokal dan hanya menjangkau toko-toko buku tertentu. Diskon yang diminta oleh distributor (yang nantinya dibagi dengan toko-toko buku) berkisar antara 45-60 persen dari harga jual buku. Soal diskon, kita bisa bernegosiasi dengan pihak distributor dan kemudian kerjasama itu dibuat dalam format kontrak kerjasama pendistribusian.
Nantinya, sebulan sekali kita akan menerima laporan penjualan buku kita. Sementara, jatuh tempo pembayaran bervariasi antara distributor yang satu dengan yang lain. Ada distributor yang sudah bisa membayar dalam setengah bulan, namun ada pula yang baru membayar dua bulan setelah laporan penjualan kita terima. Semua ketentuan itu termaktub dalam kontrak kerjasama.

Pada intinya, delapan langkah itulah yang kita butuhkan untuk mendirikan sebuah penerbitan mandiri. Kedelapan langkah tersebut sudah mencakup persiapan penerbitan hingga peredaran buku ke pasaran. Sebab, begitu buku kita sudah sampai di tangan distributor, maka biasanya seminggu kemudian buku tersebut sudah beredar di toko-toko buku. Sebagai penerbit, kita sudah menyelesaikan satu rangkaian proses produksi atau penerbitan buku.

Dan, begitu buku produksi penerbitan mandiri kita beredar di toko-toko, maka sejak itulah merek penerbitan kita resmi beredar di tengah-tengah khalayak. Tugas kita selanjutnya sebagai penerbit adalah membuat gema promosi dengan berbagai aktivitas supaya khalayak tertarik dan kemudian membelinya.
Tapi, saya sering mendapat pertanyaan begini, “Apakah membuat penerbitan mandiri itu harus disertai dengan pendirian badan usaha semacam PT atau setidaknya CV? Bagiamana soal pajak dan sebagainya?” Jawaban saya standar saja, tidak selalu. Apabila penerbitan ini formatnya self-publishing atau independent publishing, terlebih bila masih coba-coba menemukan format, mengapa harus di-PT-kan? Langkah itu akan menambah beban biaya lagi, sementara ‘petualangan penerbitan’ belum tentu menguntungkan.

Nah, apabila nantinya penerbitan yang kita bangun itu menguntungkan, bisa memproduksi buku lebih banyak lagi, bisa mempekerjakan beberapa orang, manajemen sudah dirapikan, urusan pajak sudah dipersiapkan dan ditata dengan lebih baik, silakan bentuk badan usahanya. Dunia penerbitan kita banyak diwarnai oleh langkah-langkah semacam ini. Hampir semua penerbit kecil atau independen pada awalnya berusaha memperkuat bisnisnya dulu. Setelah mampu memperkuat basis bisnisnya dengan terus mengembangkan diri, barulah kemudian membakukan penerbitannya dalam sebuah badan hukum dan kemudian memproklamirkan diri menjadi penerbitan umum. Jadi, tunggu apa lagi? Selamat mendirikan penerbitan mandiri.[ez]

Tips Negosiasi Gaji pada saat Wawancara

Setelah berhasil melewati beberapa tahap wawancara kerja, besar kemungkinan anda akan diterima di perusahaan tersebut. Maka yang harus anda lakukan adalah mempersiapkan diri untuk menerima pertanyaan, “Berapa gaji yang anda inginkan?”


Negoisasi gaji adalah salah satu bagian tersulit dalam mendapatkan pekerjaan. Jika meminta jumlah yang terlalu besar, perusahaan mungkin akan mengurungkan niatnya merekrut anda. Sebaliknya, jika jumlah yang anda minta terlalu rendah, mungkin anda akan diterima, namun gaji yang didapatkan dibawah standar yang seharusnya dibayarkan perusahaan tersebut.
Setelah bekerja selama beberapa waktu, lalu anda mengetahui fakta tersebut, pastilah anda akan merasa kecewa. Dan solusinya adalah meminta kenaikan gaji, dan hal ini bukanlah proses yang mudah.
Untuk “memenangkan” negosisasi gaji pada saat wawancara kerja, ikuti petunjuk berikut :

 1. Cari Informasi tentang Perusahaan
Sebelum wawancara, manfaatkan jaringan anda. Anda bisa mendapatkan informasi dari teman atau senior anda yang bekerja di perusahaan tersebut/industri serupa, terutama untuk divisi atau posisi yang sama. Sumber lain adalah internet atau tabloid yang memuat mengenai survei informasi gaji.

2. Dengarkan Pewawancara
Di awal wawancara, jangan pernah langsung menyebutkan berapa gaji yang anda inginkan. Semakin lama anda “menunda”, maka semakin banyak informasi yang bisa didapatkan untuk “memenangkan” negoisasi gaji.
Langkah awal, pada saat wawacara, anda sebaiknya “mencari tahu” dari sang pewawancara, ada berapa banyak kandidat untuk posisi tersebut, dan telah berapa lama lowongan tersebut dibuka. Jika lowongan tersebut telah dibuka dalam waktu yang lama, ada kemungkinan perusahaan kesulitan untuk mendapatkan kandidat yang memenuhi kualifikasi. Jika anda high qualified, mungkin anda bisa mendapatkan nominal yang dinginkan.

3. Berlatih
Anda boleh menyebutkan sejumlah angka pada saat bernegoisasi. Tetapi jangan terlalu tinggi
dari standar gaji yang berlaku untuk industri/perusahaan tersebut. Jika ini terjadi, pewawancara
malah menganggap anda tidak serius. Ini berarti anda kehilangan kesempatan.
Jika anda menginginkan sejumlah nominal yang tinggi untuk gaji anda, katakanlah sejumlah
gaji pada top range, tunjukkah bahwa kualifikasi anda memang pantas untuk itu. Sebelum hari
wawancara, anda bisa mempersiapkan “pidato” selama 1-2 menit yang mendeskripsikan apa
yang anda bisa berikan untuk perusahaan jika anda diterima bekerja di tempat tersebut.
Satu hal yang harus dingat, pada saat perusahaan memberikan penawaran, anda tidak harus
memberikan jawaban saat itu juga. Anda bisa minta waktu untuk mempertimbangkan
semuanya dalam mengambil keputusan. Jika tawaran perusahaan lebih rendah dari yang anda
harapkan, anda bisa saja menolak.
Apalagi pada saat bersamaan, ada tawaran yang lebih menggiurkan dari perusahan lain.
Namun, ada hal lain yang patut dipertimbangkan, apakah posisi yang ditawarkan nerupakan
langkah strategis untuk perkembangan karir anda.

4. Beberapa situasi dalam Menegosiasikan Gaji

Negosiasi Gaji di Awal Wawancara
- Perusahaan melakukan “secreening phobe call”. Yang harus anda lakukan adalah bertanya dengan sopan mengenai kisaran gaji untuk posisitersebut.
- Jika si penelpon tidak memberikan informasi untuk hal tersebut, anda sebaiknya merespon
dengan mengatakan, “Berdasarkan informasi yang saya dapatkan mengenai standar gaji untuk
industri ini, mencakup gaji pokok, lembur, training, dan fasilitas yang ada, asuransi kesehatan,
biaya perjalanan, jenjang karir, bonus, komisi, dan jenis profit sharing lainnya, gaji yang saya
inginkan berkisar Rp xxx,- sampai dengan Rp yyy,- (berikan kisaran yang luas).
Saya bersedia datang untuk wawancara pada hari X jam Y. Apakah Bapak/ibu bersedia mempertimbangkan ?.
 - Jika pewawancara mengajukan pertanyaan mengenai gaji pada saat awal wawancara, anda
punya 3 pilihan :
a. Berusaha menunda negoisasi dengan mengatakan, “Saya melamar untuk posisi ini karena
sangat tertarik akan bidang ini dan perusahaan anda. Tetapi saya rasa saya baru bisa
membahas masalah gaji dengan anda setelah kita berdua “yakin” bahwa saya memang
memenuhi kualifikasi untuk posisi ini.”
b. Memberikan respon yang tidak spesifik dengan mengatakan, “Selama saya dibayar sesuai
standar perusahaan anda dan tanggung jawab yang harus saya penuhi untuk posisi ini, saya
rasa tidak ada masalah.”
c. “Membalikkan” pertanyaan kepada pewawancara. Jika pewawancara melontarkan pertanyaan
di awal wawancara , “Jika anda diterima bekerja di sini, berapa gaji yang anda inginkan ?”.
Maka anda bisa menjawab seperti ini, “Saya sangat tertarik untuk berkerja di sini, menjadi
bagian dari perusahaan ini. Tetapi sebelumnya saya ingin mengetahui, untuk kualifikasi
kandidat dengan latar pendidikan dan keahlian seperti saya, berapakah standar gaji di
perusahaan ini ?”.

Negoisasi gaji di pertengahan wawancara
– Perusahaan menawarkan gaji dalam kisaran yang sesuai/bisa anda terima. Pewawancara
mengatakan, “Gaji untuk posisi ini berkisar dari Rp xxx,- sampai dengan Rp yyy,- Apakah andabersedia menerima tawaran ini ?. Yang harus anda katakan, “Saya sangat menghargai tawaranini.Saya sangat tertarik untuk mengaplikasikan yang telah saya pelajari selama kuliah diperusahaan ini. Jumlah yang anda sebutkan tadi adalah yang seperti saya harapkan untuk gajipokok, ditambah dengan beberapa aspek lainnya seperti asuransi, uang lembur, dan fasilitaslainnya.
– Anda hanya tertarik pada top range dari gaji yang di tawarkan. Yang harus anda katakan,
“Terimakasih atas tawaran anda untuk bergabung dengan perusahaan ini. Saya yakin berbagai keahlian yang saya miliki merupakan benefit bagi perusahaan ini. Berdasarkan apa yang sayaketahui mengenai standar gaji dan penawaran dari perusahaan lain, saya harus mengatakan bahwa saya hanya bisa mengatakan “ya” untuk kisaran atas dari jumlah yang Bapak/Ibusebutkan tadi.
– Jika anda sama sekali tidak tertarik dengan gaji yang ditawarkan. Yang harus anda katakan,
“Terimakasih atas tawaran Bapak/Ibu untuk bergabung dengan perusahaan ini. Saya sangat
tertarik untuk mengaplikasikan yang telah saya pelajari selama kuliah di perusahaan ini.
Namun ada beberapa perusahaan lain yang juga memberikan tawaran kepada saya, untuk
posisi yang sama dan gaji yang lebih tinggi. Tentu saja, uang bukan faktor penentu utama, sayajuga mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti training, jenjang karir, dan sebagainya.
– Pewawancara tidak menyebutkan jumlah kisaran gaji. Yang harus anda katakan, “Dari apa
yang saya ketahui, berdasarkan standar industri, gaji pokok untuk posisi ini adalah sebesar Rpxxx. Dan berdasarkan pendidikan dan keahlian yang saya miliki, saya mengharapkan gaji padamiddle range, katakanlah Rp yyy. Baagimana menurut Bapak/Ibu ?”.
– Jika pewawancara memberikan penawaran di akhir wawancara. Ini berarti pewawancara
sangat tertarik untuk merekrut anda. Yang harus anda katakan, “Saya siap untuk menerima
penawaran terbaik dari perusahaan ini.” Dan jika gaji ditawarkan memang seperti apa yang
anda inginkan, katakan, “Hal terpenting bagi saya adalah kesempatan untuk bergabung di
perusahaan ini, dan saya yakin gaji yang ditawarkan sangat kompetitif.”
http://MejaLaptop.JawaraShop.com

Petunjuk untuk “Fresh Graduates”
- Perusahaan memilih anda karena kualifikasi yang dimiliki, bukan gaji yang anda sebutkan. Perusahaan menerima anda bekerja adalah untuk meningkatkan profit mereka.
- Dalam wawancara, anda harus meyakinkan bahwa anda mampu mengerjakan tugas/tanggung jawab untuk posisi tersebut. Jika tidak, mereka tidak akan memberikan penawaran apapun bagi anda.
- Jika anda belum memiliki pengalaman kerja, ingat akan kualitas anda yaitu pendidikan dan keahlian. Dua hal itulah yang akan membuat anda sukses di dunia kerja.
- Apa yang membuat perusahaan memutuskan menerima anda ?. 95% nya berdasarkan kepribadian, antusiasme, dan keahlian anda. 5% nya adalah karena keahlian khusus yang anda miliki.
http://JualBeliPonsel.JawaraShop.com
5. Jika Penawaran telah Resmi dibuat
Jika penawaran resmi telah dibuat, ajukan pertanyaan sebagai berikut :
· Apakah ada kesempatan promosi untuk posisi ini ?. Untuk posisi atau level apa ?.
· Kapan dan bagaimanakah penilaian kinerja pegawai untuk posisi ini ?.
· Apakah penilaian tersebut termasuk untuk review gaji ?.
· Seperti apakah peningkatan gaji yang ditawarkan untuk 3-5 tahun mendatang ?.
· PASTIKAN BAHWA PENAWARAN GAJI TELAH MENCAKUP KESELURUHAN DAN DALAM BENTUK TERTULIS.
· PASTIKAN ANDA TELAH MENGEVALUASI KESELURUHAN KOMPENSASI YANG DITAWARKAN, BUKAN HANYA GAJI.
Selain gaji, biasanya perusahaan juga memberikan kompensasi dalam bentuk :
· Asuransi kesehatan (dengan atau tanpa mencakup perawatan gigi & mata) .Walaupun perusahaan tidak meng-cover semua biaya, fasilitas ini akan membuat anda membayar lebih murah.
· Asuransi jiwa.
· Asuransi kecelakaan, terutama untuk pegawai yang sering bepergian/jenis pekerjaan dengan risiko tinggi.
· Peningkatan gaji untuk 3-5 tahun pertama. Apakah hanya peningkatan pertahun ?. Atau ada peningkatan gaji/pemberian bonus berdasarkan prestasi kinerja ?.
· Fasilitas cuti.
· Biaya pensiun (berlaku untuk perusahaan tertentu).
· Profit sharing.
· Stock option. Beberapa perusahaan menerapkan sistem pembagian saham kepada karyawan.
· Training atau pendidikan tertentu.
· Uang lembur & transportasi.
· Fasilitas kredit kendaraan/rumah.

6. Hal-hal lain yang harus Diperhatikan
· Ucapkan terimakasih atas penawaran yang diberikan.
· Jangan langsung bernegoisasi pada saat pewawancara menyebutkan penawaran. Mintalah waktu untuk mempertimbangkan kompensasi secara keseluruhan, bukan hanya gaji.
· Pada saat bernegoisasi, jangan katakan, “Saya meminta …”. Yang terbaik anda harus mengatakan, “Saya mengharapkan..,”.
· Terkadang gaji yang ditawarkan mungkin lebih rendah dari yang anda inginkan. Sebelum menerima atau menolak, pertimbangkanlah faktor lain seperti reputasi perusahaan, budaya perusahaan, suasana kerja, macam asuransi yang ada, training dan pendidikan, dan sebagainya.
Good Luck to you all..

Tips Sukses Wawancara

1. Nama perusahaan besar sering mengundang keinginan untuk melamar. Tapi ingat, kalau posisi yang ditawarkan nggak cocok sama keahlian kamu, please deh jangan nekat ngelamar. Melamar posisi yang tepat dengan pengalaman dan keahlian yang mendukung pastinya menambah nilai plus buat si pelamar.

2. Kata-kata dress for success nggak sekedar kiasan lho! Berpakaian yang tepat sesuai dengan pekerjaan yang dilamar adalah hal yang wajib banget! Misalnya ingin melamar jadi sekretaris pastinya harus menggunakan pakaian yang rapih dan formal. Tapi ketika melamar pekerjaan yang banyak berkutat di lapangan, baju-baju yang lebih santai bisa jadi pilihan. Kalau bingung, tanya saja sama teman yang telah bekerja di posisi serupa.

3. Datang ke tempat wawancara paling tidak 15 menit sebelum jadwal. Kelebihan waktu ini akan memberi waktu untuk bersiap-siap. Misalnya, merapihkan make-up, pakaian, ke kamar kecil dan lain-lain. Selain itu datang tepat waktu juga memberi kesan yang baik.

4. Jabat tangan memberi kesan yang sangat penting. Jangan menjabat tangan setengah hati. Jabatlah dengan erat seperti ketika bertemu teman lama yang kamu tunggu-tunggu. Berikan kesan tegas namun bersahabat.

5. Ketika wawancara berlangsung, kumpulkan rasa percaya diri. Tatap mata si pewawancara dengan ramah. Menghindari tatapan mata atau melihat ke bawah mengesankan kurangnya percaya diri.

6. Biarkan CV bicara. CV adalah jendela pertama perkenalan calon pegawai dan perusahaan. Buatlah CV menggambarkan diri kita sebaik mungkin. Tulis juga hobi dan minat yang menggambarkan diri kita. Tapi harus jujur ya!

7.Nah, ketika si pewawancara sedang membaca CV kita, sebisa mungkin kita jangan berbicara. Mengajaknya berbicara akan membuat perhatiannya teralih dari CV kita yang oke.

8. Jangan terlihat resah atau duduk terlalu bersandar. Sikap duduk seperti itu akan membuat kita terlihat seperti orang gugup dan pemalas.

9. Pelajari latar belakang perusahaan yang dilamar. Dengan begitu kita akan terlihat tanggap dan berwawasan luas.

10. Bertanya bukanlah hal yang dilarang dalam wawancara. Pertanyaan juga akan menggambarkan diri kita. Jadi, hati-hati dalam bertanya. Menanyakan berapa lama jam makan siang, bisa mengesankan kita orang yang pemalas dan senang bermain.

11. Jika melamar di perusahaan yang membutuhkan ide-ide kreatif, jangan ragu untuk mengajukan sebuah usul atau saran. Tapi jangan terlalu mendetail. Jelaskan secara singkat dan menarik sehingga mereka akan melihat poin lebih pada kita.

12. Seperti kata band Seriues, 'pewawancara juga manusia'. Bicaralah dengan jujur dan terbuka. Jangan coba-coba berbohong atau menipu, kemungkinan mereka akan mengetahuinya.

13. Lagi-lagi jangan malu bertanya. Jika si pewawancara memberikan pertanyaan yang tidak kita mengerti, tanyakan maksudnya. Lebih baik kita menjadi orang pintar yang tak takut bertanya daripada orang 'sok tahu' yang merasa mengerti semua pertanyaan padahal jawabannya salah. Waduh!

14. Jika ditanya alasan keluar dari perusahaan sebelumnya, jangan berbicara panjang lebar tentang buruknya perusahaan tersebut (walaupun sebenarnya begitu). Katakan saja, di perusahaan tersebut bakat dan ide-ide kita yang cemerlang kurang bisa dimanfaatkan dan karena itulah kita melamar di perusahaan ini.

15. Dalam menjawab pertanyaan jangan ragu-ragu untuk berpromosi. Punya bakat dan kemampuan yang oke kok disembunyikan.

Tunjukkan kalau kita adalah aset perusahaan yang berharga. Rugi banget kalau nggak direkrut!


Source: Detik

Tips Membuat CV yang 'Menjual'

Berikut ini adalah tips dari Bapak Haryo Utomo Suryosumarto seorang Headhunter/Recruitment Consultant, sehingga mungkin dapat membantu teman-teman dalam meyakinkan pihak perusahaan maupun headhunter mengenai kemampuan dan kompetensi yang dimiliki.

Sebetulnya membuat CV atau resume yang “menjual” itu tidak memerlukan ketrampilan khusus, jadi saya coba sharing dari pengalaman saya selama ini mengenai beberapa syarat yang hampir selalu dijumpai pada CV atau resume yang memiliki karakteristik dalam “menjual” kemampuan dan kompetensi pemiliknya.


1. Rapi dan Mudah Dibaca
Ini syarat utama dari sebuah CV atau resume yang “menjual”, karena terus terang tidak ada yang lebih mengesalkan daripada membaca CV atau resume yang berantakan layout-nya.
Meskipun teman-teman memiliki kemampuan dan kompetensi yang sangat baik, tapi semua itu jadi percuma kalau orang yang membaca CV atau resume teman-teman mendadak jadi sakit mata ketika melihat huruf dengan ukuran abnormal, spasi yang terlalu rapat, ejaan bahasa Inggris yang salah atau margin kiri yang maju-mundur alias tidak konsisten.


2. Memberikan Informasi Lengkap
CV atau resume yang “menjual” selalu memberikan informasi lengkap kepada orang yang membacanya. Mulai dari data pribadi, latar belakang pendidikan, riwayat pengalaman kerja, pelatihan yang pernah diikuti, sertifikasi (relevan) yang dimiliki dan kegiatan ekstra kurikuler yang aktif diikuti.


3. Disajikan Secara Ringkas
Ini mungkin sedikit berlawanan dengan syarat nomor 2 diatas, tapi sebetulnya tidak. Maksud saya begini, CV atau resume yang “menjual” itu memang harus menyajikan informasi secara lengkap, tapi bukan berarti CV atau resume teman-teman panjangnya harus sampai 19 halaman (ini kisah nyata – sampai hari ini rekor CV terpanjang yang pernah saya baca panjangnya 19 halaman).
Bila bisa menyajikan informasi penting secara lengkap dalam beberapa lembar halaman tentunya akan sangat membantu, karena waktu yang dibutuhkan untuk membacanya juga jadi jauh lebih singkat.
Aturan sederhananya: jangan pernah membuat CV atau resume lebih dari 3 halaman!


4. Konsistensi Karir
Sudah menjadi rahasia umum kalau satu hal ini adalah salah satu kunci penting yang menentukan untuk dihubungi oleh pihak perusahaan atau headhunter menuju tahapan rekrutmen berikutnya.
Contohnya begini, bila ada seorang engineer di sebuah perusahaan yang sejak awal karirnya memutuskan untuk menjadi spesialis dalam HSE (Health & Safety Environment) dan kemudian 7 tahun berikutnya ternyata dia masih menekuni spesialisasi yang sama, besar kemungkinan dia akan lebih diutamakan untuk direkrut daripada engineer lain dengan latar belakang HSE juga pada tahun-tahun awal, tapi kemudian beralih jalur ke bidang lain di tahun-tahun berikutnya.
Kenapa demikian? Karena secara jujur saya katakan, pihak perusahaan dan headhunter paling menyukai para spesialis seperti ini untuk mengisi setiap posisi yang lowong.


5. Karir Progresif
Ketika teman-teman sudah menjadi spesialis di satu bidang, keputusan untuk menuju tahap rekrutmen berikut biasanya akan lebih mudah diambil oleh pihak perusahaan atau headhunter kalau teman-teman juga menjalani karir yang progresif.
Mengambil contoh diatas, bisa jadi engineer dengan spesialisasi HSE tersebut mengawali karirnya dari Field Officer, kemudian naik menjadi Team Coordinator, dan seterusnya sampai menduduki level-level jabatan diatasnya.
Kenapa karir progresif ini menjadi penting? Karena disinilah indikator paling nyata apakah teman-teman mampu memberikan performa kerja terbaik dalam spesialisasi yang dipilih — yang berarti pula mendapat ganjaran berupa promosi jabatan kalau memang berprestasi.


6. Achievement
Jangan pernah ragu untuk mencantumkan achievement atau pencapaian prestasi yang diukir dalam tiap jabatan atau posisi yang ditempati sebelumnya. Inilah kesempatan terbaik untuk “menjual” bukti kemampuan dan kompetensi yang sesungguhnya kepada pihak perusahaan atau headhunter.


7. Custom Made
Ini adalah rahasia yang paling jarang diketahui oleh banyak orang yang menyusun CV atau resume.
Yang dimaksud custom made disini adalah mengubah dan menyesuaikan CV atau resume agar sedapat mungkin menunjukkan kepada pihak perusahaan atau headhunter bahwa kemampuan dan kompetensi yang dimiliki teman-teman memang menyamai atau minimal mendekati job requirements yang dicari.
Sederhananya begini, kalau teman-teman melihat sebuah iklan lowongan kerja, disitu pasti disebutkan job requirements yang dibutuhkan. Nah, usahakan ubah dan sesuaikan CV atau resume teman-teman untuk menonjolkan kesan bahwa kemampuan dan kompetensi yang dimiliki memang memenuhi atau paling tidak mendekati job requirements tersebut.
Sangat disayangkan, masih sering sekali banyak CV atau resume yang terkesan ‘generik’ karena sama sekali tidak menonjolkan kemampuan dan kompetensi yang dipersyaratkan oleh job requirements. Kalau sudah begini, rasanya kecil pula kemungkinan CV atau resume teman-teman akan mendapatkan respon seperti yang diharapkan.

Senam Vertigo

Ada beberapa pengobatan gangguan keseimbangan (pada telinga) selain obat-obat yang diminum, yaitu rehabilitasi/fisioterapi dalam hal ini latihan gerakan kepala dan badan.     Pertama kali umumnya harus dibantu oleh dokter untuk melakukannya.

Di sini saya membicarakan latihan terapi gangguan keseimbangan/vertigo akibat perubahan posisi kepala ( istilah medis : BPPV - Benign Paroxysmal Positional Vertigo ).

Ada beberapa latihan yaitu : Canalit Reposition Treatment (CRT) / Epley manouver, Rolling / Barbeque maneuver, Semont Liberatory maneuver dan Brand-Darroff exercise (saya belum menemukan istilahnya dalam bahasa Indonesia).      Dari beberapa latihan ini kadang memerlukan seseorang untuk membantunya tapi ada juga yang dapat dikerjakan sendiri.

Dari beberapa latihan, umumnya yang dilakukan pertama adalah CRT atau Semont Liberatory, jika masih terasa ada sisa baru dilakukan Brand-Darroff exercise.

Latihan CRT / Epley manouver :

7507a4-fig3
Keterangan Gambar :
Pertama posisi duduk, kepala menoleh ke kiri ( pada gangguan keseimbangan / vertigo telinga kiri ) (1), kemudian langsung tidur sampai kepala menggantung di pinggir tempat tidur (2), tunggu jika terasa berputar / vertigo sampai hilang, kemudian putar kepala  ke arah kanan ( sebaliknya ) perlahan sampai muka menghadap ke lantai (3), tunggu sampai hilang rasa vertigo, kemudian duduk dengan kepala tetap pada posisi menoleh ke kanan dan kemudian ke arah lantai (4), masing-masing gerakan ditunggu lebih kurang 30 – 60 detik.     

Dapat dilakukan juga untuk sisi yang lain berulang kali sampai terasa vertigo hilang.
Untuk Rolling / Barbeque maneuver, dilakukan dengan cara berguling sampai 360′, mula-mula posisi tiduran kepala menghadap ke atas, jika vertigo kiri, mulai berguling ke kiri ( kepala dan badan ) secara perlahan-lahan, jika timbul vertigo, berhenti dulu tapi jangan balik lagi, sampai hilang, setelah hilang berguling diteruskan, sampai akhirnya kembali ke posisi semula.

Latihan Semont Liberatory :
9ff3
Keterangan Gambar :
Pertama posisi duduk (1), untuk gangguan vertigo telinga kanan, kepala menoleh ke kiri, kemudian langsung bergerak ke kanan sampai menyentuh tempat tidur (2) dengan posisi kepala tetap, tunggu sampai vertigo hilang (30-6- detik), kemudian tanpa merubah posisi kepala berbalik arah ke sisi kiri (3), tunggu 30-60 detik, baru kembali ke posisi semula.   Hal ini dapat dilakukan dari arah sebaliknya, berulang kali.

Latihan Brand-Darroff exercise :
nr551625
Keterangan Gambar :
Hampir sama dengan Semont Liberatory, hanya posisi kepala berbeda, pertama posisi duduk, arahkan kepala ke kiri, jatuhkan badan ke posisi kanan, kemudian balik posisi duduk, arahkan kepala ke kanan lalu jatuhkan badan ke sisi kiri, masing-masing gerakan ditunggu kira-kira 1 menit, dapat dilakukan berulang kali,pertama cukup 1-2 kali kiri kanan, besoknya makin bertambah.
Mungkin ada yang bertanya, apasih gunanya gerakan kepala dan badan itu, mungkin kalau saya terangkan akan membuat kepala jadi mumet /vertigo, tapi itu adalah gerakan yang telah dilakukan penelitian dan telah berhasil.
Sebaiknya juga harus diperiksakan terlebih dahulu untuk memastikan penyebab vertigo / gangguan keseimbangannya.

Dari blog-nya Pak Dokter THT: http://d132a.wordpress.com/2008/12/26/pengobatan-gangguan-keseimbangan-vertigo/